Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Perbedaan itu ada’ Category

Judul itu saya baca di Kompas edisi Jum’at 29/01. Beritanya tidak banyak, cuma semacam gambar dalam berita, begitulah. Kegiatan gratis itu diselenggarakan oleh Yayasan Kanker Indonesia – Jakarta, untuk 2000 perempuan. Pap Smear adalah cara medis untuk mendeteksi sedini mungkin adanya kanker serviks (kanker mulut rahim). Dengan begitu diharapkan dapat mencegah jumlah penderitanya, khususnya kaum perempuan.

Sebenaranya masalah keperempuanan bukan cuma kanker mulut rahim. Sejak perempuan mengalami menstruasi, sejak itulah ia kedatangan bertubi-tubi masalah perempuan.
Sakit saat mens, terlambat datang bulan yang akibatnya bisa menimbulkan kemandulan ataupun kista.
9 bulan menenteng janin, tidur dan makan tak nyaman. Badan gerah dan pantangan A B C.
Sakit saat melahirkan, perawatan pasca melahirkan, ASI untuk si kecil.
Mengasuh si kecil, mendidik dan membesarkan anak. Kembali bekerja mencari uang.
Anak menangis, stres.
Anak dipukulin anak tetangga, stres.
Anak nakal, stres.
Anak tidak mau makan dan mandi, stres
Tidak ada makanan dirumah, stres.
Makanan belum dimasak, stres.
Cucian ataupun setrikaan menumpuk, sters
Jemuran tidak kering, stres.
Pakaian di lemari berantakan, stres.
Rumah kotor berantakan, stres.
hmm… belum lagi berhadapan dengan suami/laki-laki jahat.

Saya berharap dengan masuknya kaum perempuan di lembaga legislatif, kebijakan-kebijakan pro perempuan yang kongkrit bisa lahir dari sana. Selain undang-undang/peraturan daerah, juga bagaimana APBN/D bisa lebih nyata dialokasikan khusus untuk perempuan.

Bagaimana cuti hamil dan melahirkan diberikan tidak hanya 3 bulan tetapi bisa lebih dari 2 tahun, guna perawatan pasca melahirkan dan pemberian ASI Ekslusif.
Bagaimana biaya pemeriksaan janin dan persalinan ibu bisa mendapat kompensasi bila perlu digratiskan.
Bagaimana fasilitas-fasilitas publik baik itu diperkantoran pemerintah/swasta, bandara, stasiun, terminal, dan mal, menyediakan ruang perawatan ibu dan bayi.
Bagaimana adik-adik remaja kita yang sering mengalami gangguan mesntruasi (sakit dan telat) mendapatkan konsultasi cukup untuk perawatan dan pengobatannya?
Bagaimana bayi bukan hanya diberikan imunisasi gratis tetapi juga susu dan makanan pendamping ASI di setiap posyandu.
Bagaimana buruh perempuan bangunan, jalan raya, dan pengemis dibekali keterampilan semacam industri kreatif agar ia bisa mandiri bekerja di ditempak yang layak?
Bagaimana pemberian bantuan modal usaha dan penguatan modal bagi perempuan-perempuan UKM?
Bagaimana pengaturan mendidik anak dan pekerjaan domestik bisa dishare dengan suami.
Dll…yang semuanya itu perlu diberikan payung hukumnya.

Dan juga para ibu yang mendedikasikan dirinya untuk putra – putrinya perlu diberikan semacam award,
sebagai bentuk apresiasi karena kepeduliannya terhadap pembentukan generasi bangsa.

Ah, perempuan, siapakah yang bisa memperjuangkan nasibmu?
Engkau berbeda dengan lelaki. Alat reproduksimu yang menjadikanmu harus memperoleh prioritas.

Selama persoalan perempuan tidak tertangani dengan baik, perempuan akan terus gelisah karena keperempuanannya.

Eits, kalau punya duit sih, baek-baek saja, tapi kalau nggak punya duit resah gelisah:)

Iklan

Read Full Post »

Liputan6.com, New York: Kebanyakan wanita tentunya mengagumi kaum lelaki. Tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa ternyata wanita memiliki beberapa kelebihan yang mengagumkan dibandingkan dengan laki-laki. Hal tersebut dirangkum Cosmopolitan, dan berikut hasilnya:

1. Perempuan berevolusi menjadi semakin cantik.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita berevolusi menjadi lebih cantik, sementara laki-laki begitu-begitu saja. Dalam penelitian terhadap lebih dari dua ribu orang selama empat dekade, disimpulkan bahwa perempuan berpenampilan menarik memiliki anak 16 persen lebih banyak daripada yang berpenampilan biasa-biasa saja. Lebih lanjut lagi, ternyata kemungkinan wanita-wanita cantik tersebut memiliki anak perempuan sebagai anak pertama lebih besar 36 persen dari yang lainnya.

2. Perempuan lebih sering selamat dari kecelakaan mobil.
Hal ini menyedihkan, namun begitulah kenyataannya. Berdasarkan penelitian oleh Universitas Carnegie Mellon, di Pittsburgh, Amerika Serikat, laki-laki 77 persen lebih berisiko meninggal dalam kecelakaan mobil dibanding perempuan. Seharusnya, para pria berterimakasih pada wanita yang cerewet menyuruhnya mengenakan sabuk pengaman.

3. Perempuan lebih mudah merasa nyaman.
Berdasarkan survei pada dua ribu orang, ternyata wanita jauh lebih mudah membicarakan masalahnya dibandingkan laki-laki. Sebanyak 53 persen wanita membicarakan masalahnya pada teman-teman mereka, sementara laki-laki yang menceritakan masalahnya hanya 29 persen.

4. Wanita lebih tahan resesi.
Menurut sebuah Biro Statistik Tenaga Kerja, sebanyak 80 persen orang yang kehilangan pekerjaan, sejak Desember 2007, adalah laki-laki. Hal ini kemungkinan disebabkan karena lapangan pekerjaan yang didominasi prialah yang paling keras terkena dampak resesi global. Memang menyebalkan, tetapi mungkin sudah waktunya kaum Adam beralih pekerjaan menjadi perawat atau guru.

5. Wanita lebih sering lulus perguruan tinggi.
Seperti kita ketahui, wanita lebih banyak terdaftar di perguruan tinggi dibandingkan laki-laki. Sebuah statistik mengungkapkan bahwa laki-laki yang lulus dan mendapatkan gelar sarjana juga ternyata lebih sedikit daripada wanita. Kebanyakan laki-laki ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari lima tahun untuk menyelesaikan kuliah mereka.

6. Wanita makan lebih sehat.
Penelitian pada sekitar 14 ribu orang yang dilakukan oleh University of Minnesota, AS, menunjukkan bahwa wanita lebih banyak memilih makanan sehat dibanding pria. Ketika pria lebih suka makan makanan beku atau cepat saji seperti daging merah dan pizza, para wanita justru menaruh sejumlah buah dan sayuran dalam piring mereka. Memang terdengar sehat, namun wanita juga harus mengobati kecanduannya pada coklat yang sulit dihilangkan.

7. Kekebalan tubuh wanita lebih kuat.
Tak heran bila laki-laki bertingkah layaknya seorang bayi ketika mereka terserang flu. Kenyataannya, wanita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dibanding laki-laki. Ketika terjadi pertempuran dalam tubuh, wanita memiliki senjata rahasia yakni hormon estrogen. Penelitian dari McGill University, Kanada, menunjukkan bahwa estrogen dapat mengatasi enzim yang mengganggu pertahanan tubuh terhadap bakteri dan virus.

8. Wanita berumur lebih panjang.
Di antara populasi dunia, sebanyak 85 persen orang yang berusia lebih dari 100 tahun adalah wanita. Menurut penelitian New England Centenarian, umumnya wanita hidup lima hingga 10 tahun lebih lama dibanding pria.

9. Wanita dapat menjadi bos yang lebih baik.
Hal ini mungkin sedikit kontroversial. Beberapa ahli dengan yakin berpendapat bahwa kaum wanita dapat menjadi bos yang lebih hebat daripada laki-laki. Hal ini disebabkan karena wanita adalah pendengar dan mentor yang lebih baik. Selain itu, wanita juga dapat menyelesaikan masalah dengan lebih baik, dan mengerjakan dua hingga tiga pekerjaan sekaligus. Dalam sebuah artikel Daily News, baru-baru ini, seorang ahli mengatakan bahwa saat ini perekonomian lebih berorientasi pada pelayanan, sehingga karyawan yang bisa menjadi penyemangat lebih diperlukan. Wanita dinilai sebagai penghubung yang lebih baik dibanding pria, serta lebih lihai dalam memberikan semangat kepada para pekerja.

10. Wanita berinvestasi lebih baik.
Penelitian pada 100 ribu portofolio menunjukkan bahwa investasi wanita lebih menghasilkan dibanding investasi pria. Perbandingannya adalah 18 persen dibanding 11 persen. Hal ini mungkin disebabkan karena wanita lebih berhati-hati dengan keputusan investasinya dan berpikir untuk jangka panjang.(LUC)

Sumber : http://gayahidup.liputan6.com/

Read Full Post »

Mereka ribut soal jender, fungsi dan peran sosial. Jika aku bertanya, mana yang kau pilih, apakah bentuk menciptakan fungsi atau fungsi menciptakan bentuk?
Apakah pisau menciptakan fungsi potong atau fungsi potong menciptakan bentuk pisau?
Untuk saya, opsi kedua yang rasional.

Jika bentuk gelas dan pisau digunakan untuk fungsi yang sama, atau berbalikan tanggung jawab, maka gagallah mereka dalam bentukannya maupun fungsinya.
Jadi, karena untuk minumlah, manusia membuat gelas, dan untuk potonglah, manusia membuat pisau. Dengan tanggung jawab inilah, maka kedua benda tersebut bermanfaat.

Keduanya membatasi peranannya, agar maksimal di fungsinya/kewajibannya masing-masing, dan tidak merasa terbebani, sebab akan tumpul jika terlalu banyak peranan yang mereka lakukan.

Jika pisau digunakan untuk memotong kaca/gelas atau memotong kelapa, maka ia bisa tumpul untuk fungsinya memotong bawang atau sayur.
Begitu pula gelas yang jika difungsikan sebagai tempat pulpen atau tempat sikat dan pasta gigi, maka fungsinya sebagai tempat minum bisa lalai.

Demikian hal yang sama untuk kita manusia. Karena bentukan biologisnya (jender), manusia membatasi peranannya tapi bukan fungsi/kewajiban/tanggung jawabnya.
Fungsi itu tekstual, hitam diatas putih, dan komitmen antara pihak-pihak yang berhubungan. Fungsi melahirkan laporan. Jika lalai, akan dicatat malaikat Atib, dan jika dijalankan ditulis malaikat Raqib.

Sedangkan “peranan” itu opsional, yakni aktivitas amal soleh untuk kebaikan bersama. Kira-kira begitu.

Terkait laki-laki dan perempuan, makhluk Tuhan yang diciptakan berbeda jender, tentu Allah punya maksud khusus. Bentuk atau dengan jender yang berbeda itu, tentu ada fungsi/tanggung jawab yang diemban keduanya yang saling melengkapi bukan pada posisi subordinat.

Untuk fungsi hamil, melahirkan, dan menyusui, Allah menciptakan perempuan. Dan untuk fungsi menafkahi, Allah menciptakan laki-laki. Fungsi-fungsi ini menciptakan mata rantai panjang yang apabila dijalani dengan sempurna, sehingga hubungan laki-laki dan perempuan dalam hal ini suami dan istri menjadi akur.

Namun, apabila masing-masing lalai dalam fungsinya akan menimbulkan konflik yang tidak tertututp kemungkinan melahirkan pemisahan diri.

Sisi lain yang bisa dipahami, jika perempuan ikut mencari nafkah, itu bukan kewajibannya, tapi perannya di ranah publik. Sebaliknya, jika laki-laki ikut memasak, juga bukan kewajibannya, melainkan peranannya di ranah domestik.
Peranan adalah keikhlasan, bukan kewajiban, bukan tanggung jawab. Namun jika peranan itu dibuat dalam sebuah komitmen yang disepakat para pihak yang terlibat, maka ia menjadi sebuah kewajiban/tanggung jawab.
Peranan adalah fungsi, sisi lain yang bisa dikaver, terlepas dari kebentukan (jender) kita manusia.

Pernahkah dibayangkan, jika kewajiban mencari nafkah ada pada perempuan juga? Ketika perempuan hamil, melahirkan, dan menyusui, ia dituntut agama mencari nafkah, betapa lelah menjalani hidup ya? 😦

Tapi tak bisa dipungkiri fenomena ini hidup di masyarakat kita, dan lagi-lagi posisi perempuan begitu terjepit.

Jadi, menurutku, yang bisa dilakukan adalah meminta perlindungan pada negara dengan menerbitkan hukum positif, yang mengakomodir perilaku laki-laki yang lalai dalam fungsinya. (***)

Read Full Post »

Masih tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, dalam sebuah tulisan yang dirilis April 2002, APA (Perhimpunan Psikolog Amerika) pernah mengadakan show film akting secara gratis untuk sejumlah laki-laki dan perempuan. Ini dalam rangka penelitian terhadap eksistensi perempuan/laki-laki, yang diantaranya untuk mencapai pengertian yang lebih dalam terhadap tingkah mereka. Soalnya, ujar mereka, penilaian terhadap mereka sering berdasarkan pengamatan secara pintas saja, tanpa didasarkan pemahaman yang lebih dalam tentang eksistensi mereka. Sementara beberapa psikolog mengamati dan mencatat ekspresi yang ditimbulkan tanpa mengganggu konsentrasi mereka.

Saat adegan “kecelakaan kendaraan”, misalnya, tampak sekali “ekspresi laki-laki cukup waspada, tidak sembarang” dan “ekpresi perempuan agak meledak, langsung simpati” terhadap korban.

Tapi dilihat dari mental, sama-sama merasakan nasib si korban, meskipun dengan ekspresi yang berbeda. Tapi umumnya itu sering ditafsirkan sebagai perbedaan bobot atensi dalam menghadapi balada. Bahkan sering memberi kesan “perempuan lebih tersentuh daripada laki-laki”.

Menurut APA, istri sudah terlatih untuk menahan marah terhadap suami. Soalnya terdapat faktor malu/riskan/segan untuk marah secara langsung. Jika dilakukan juga, akan timbul penyesalan, meskipun didiamkan.

Misalkan tengah malam pukul 01.00, bocah minta diantarkan ke kamar mandi, istri lebih mudah dibangunkan. Sementara jika terbangun sama-sama, suami lebih leluasa untuk mengacuhkan. Apakah ini mengisyaratkan suami mempunyai perasaan marah lebih besar? Tidak! Menurut dr. Leslie Brody (Universitas Boston-AS), mereka sama-sama mudah marah. Ini berdasarkan penelitian di laboratorium ketika menghadapi kegusaran, pria dan wanita sama-sama beraksi dalam bentuk denyut jantung dan respon jiwa. Tapi jika ditanyakan langsung, kata laki-laki, “Saya marah sekali” dan kata perempuan: “Saya sedih sekali”.

Dalam seksualitas terdapat juga perbedaan. Pernah mereka diberi buku “cabul”. Sekitar 42% perempuan: “Saya tidak tertarik”. Tapi saat diukur secara medis, birahi mereka secara fisiologis justru menunjukkan respon rangsangan. Laki-laki juga sama, hanya lebih mudah diketahui, hingga tidak perlu diukur secara medis (bahkan banyak laki-laki yang berani menyatakan: “saya terangsang”.

Perbedaan mereka mulai timbul sejak dalam rahim. Dalam tempo 6 minggu, mereka sama-sama menghasilkan testosteron dan estrogen dengan jumlah berbeda. Jika lebih banyak testosteron/estrogen daripada estrogen, diperkirakan kelak masing-masing jadi maskulin dan feminin.

Menurut Anne Moir dan David Jesel, ilmuwan genetika dari AS, usaha untuk menyamakan kedudukan atau menghapuskan kepribadian laki-laki/perempuan dengan menyuntikkan hormon, sebagaimana yang telah dilakukan di beberapa tempat, jelas tidak mungkin.

Soalnya antara otak laki-laki dan perempuan (sebagai pusat pengendalian segala tingkah) mempunyai perbedaan yang kontras, serta tidak dapat dinetralisir hanya dengan hormon.

Malah jangan-jangan hanya akan membuat otak rusak hingga membuat yang bersangkutan jadi “terganggu”. Jadi, percuma saja jika di tempat tertentu disediakan taman buku cerita yang seram atau taman oles wajah yang halus untuk membuat perempuan jadi berani dan laki-laki jadi genit.

Perbedaan otak mereka, berdasarkan penelitian Herbert Landsell, ilmuwan AS yang merintis penelitian tentang itu, ditemukan, kerusakan sedikit saja pada otak mereka, konsekuensi yang ditimbulkan berbeda. Misalkan kerusakan sedikit pada otak kanan: pria akan mengalami stroke berpikir dan perempuan hampir dapat berpikir normal. Perbedaan ini terletak pada corpus callosum, serat saraf yang menghubungkan otak sisi kiri dan otak sisi kanan.

Corpus Callosum milik wanita lebih tebal dan lebih bundar, akibat lebih banyak keterkaitan antara dua komponen otak dengan fungsi yang dipisahkan. Karena itu, dua komponen otak perempuan lebih terkoneksi secara timbal-balik.

Menurut Herbert Landsell, dalam pembicaraan, perempuan lebih mampu merangkai kalimat. Karena sisi kiri otak (mengontrol pembicaraan/perasaan) dan sisi kanan otak (mengontrol/mengolah informasi) lebih baik. Jadi tidak perlu heran jika perempuan lebih nyinyir alias cerewet.

Dengan mengamati struktur otak laki-laki dan perempuan, ilmuwan dapat memahami, mengapa kini timbul opini yang sebenarnya salah kaprah, yaitu laki-laki lebih doyan mengintip aurat?

Menurut dr. Eustace Chesser, ahli perkawinan dan seksualitas dari Inggris, laki-laki dan perempuan sama-sama suka “yang gituan”. Hanya saja perempuan lebih teliti hingga ketika mengintip tidak sampai kepergok. Bahkan jika akhirnya kepergok juga, mereka berdalih dengan segera mengeluarkan kalimat yang bersifat sugestif hingga memberi kesan pada lawan jenis bahwa mereka tidak mengintip, meskipun sebenarnya memang mengintip.

Berdasarkan penelitian, pria dan wanita masing-masing lebih baik dalam berpikir dan mendengar. Misalnya anak laki-laki lebih baik ketika dites tentang abjad. Sedangkan anak perempuan lebih mampu ketika disuruh menyanyi. Ini juga akibat perbedaan struktur otak pada laki-laki dan perempuan, yang bertalian dengan penginderaan.

Meskipun kini ada kesan, pria lebih tinggi dalam tingkat kecerdasan (IQ), namun ditinjau dari rata-rata, IQ perempuan sama dengan IQ pria. Namun ditinjau dari IQ ekstrim, laki-laki yang jenius dan laki-laki yang bodoh lebih banyak. Singkatnya, perempuan umumnya berada pada posisi tengah antara itu.

Kini perbedaan laki-laki dan perempuan melalui penelitian otak terus dilacak. Ini tiada lain untuk memberikan pengertian kepada manusia tentang jenis kelamin.

Terlepas apakah motivasi penelitian itu, tapi memang mempunyai dampak positif, yaitu agar dalam mengarahkan, mendidik, dan mempersoalkan laki-laki dan perempuan, dilakukan secara proposional, khususnya yang menyangkut kesetaraan jender. (***)

Read Full Post »

Seorang Psikolog Amerika, Prof. Reek (?) telah bertahun-tahun mengadakan penelitian mengenai kondisi perempuan dan laki-laki, dan sampai pada kesimpulan-kesimpulan kongkrit tertentu dengan melist banyak perbedaan perempuan dan laki-laki dalam sebuah buku tebalnya.

Dunia perempuan sama sekali beda dengan laki-laki. Dari Kitab Perjanjian lama, disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan tercipta dari ”satu daging”. Tak syak lagi, memang benar, tapi jasmani mereka beda jadi secara keseluruhan keduanya berbeda.

Perasaan keduanya (laki-laki dan perempuan) tidak mungkin bisa sama, dan reaksi mereka mengambil tindakan yang berbeda sesuai dengan kecenderungan jenis kelaimn masing-masing, dan sebagaimana halnya 2 planet yang masing-masing beredar pada orbitnya sendiri-sendiri. Keduanya akan saling mengerti dan bersatu, tetapi tidak akan pernah satu. Itulah sebabnya maka laki-laki dan perempuan harus hidup bersama, untuk memperkenalkan dan menyatukan proses edaran di orbitan masing-masing.

Prof. Reek membuat studi perbandingan tentang mentalitas laki-laki dan perempuan dan menunjukan sejumlah perbedaan. Diantaranya, ia mengatakan bahwa bagi laki-laki, adalah membosankan untuk terus menerus bersama perempuan yang dicintainya, sedang bagi si perempuan justru tidak ada yang lebih menyenangkan daripada terus berada disamping laki-laki yang dicintainya. Apabila laki-laki pernah mempunyai hubungan dengan banyak perempuan, maka laki-laki itu dipandang menarik dimata perempuan yang mencintainya, sebaliknya perempuan yang pernah punya banyak hubungan dengan laki-laki lain, tidaklah disukai laki-laki.

Dihari tua, laki-laki merasa kurang bahagia karena ia kehilangan dukungan hidupnya yang utama, yakni pekerjaan. Sebaliknya, perempuan dimasa tuanya justru merasa puas karena telah memiliki hal-hal terbaik yakni rumah tangga dan cucu. Dalam pandangan laki-laki, kehidupan yang berhasil ialah apabila ia dipandang sebagai orang terhormat, sedang dimata perempuan, keberhasilan hidup adalah apabila ia memenangkan hati seorang laki-laki dan mempertahanknnya sepanjang hidupnya.

Laki-laki menghenki perempuan mengikuti pandangan dan kebangsaannya, sedangkan perempuan soal mengubah keyakinan dan kebangsanaan laki-laki yang dicintainya adalah sama mudahnya dengan mengganti nama keluarganya dengan nama keluarga suaminya.

Dari sumber lain, disebutkan, ketidaksamaan laki-laki dan perempuan menyebabkan perbedaan dalam hak dan kewajibannya, dan fenomena ini pada dasarnya adalaha fenoemna alam yang paling menakjubkan dan merupakan suatu pelajaran tentang ke-Esa-an Tuhan dan ilmu-Nya, suatu tanda akan kebijaksanaan dan
keteraturan alam semesta dan suatu kenyataan jelas yang membuktikan bahwa proses penciptaan bukanlah berdasarkan kebetulan, alam tidak melintasi proses secara membuta, seakan-akan meraba dalam kegelapan.

Hal ini merupakan suatu bukti akan relaita bahwa fenomena alam semesta tidak dapat diterangkan tanpa menyingung “Sebab Terakhir”. Sumber lain mengatakan, watak perempuan adalah mencari perlindungan daripada berperang, dan dalam beberapa jenis, si betina nampaknya sama sekali tidak menaruh instink untuk berkelahi, kecuali unutk membela anaknya.

Kaum laki-laki juga senang diurus perempuan, dan merasa bosan mengurus dirinya sendiri. Laki-laki sangat tersanjung jika dipuja “Aku bangga padamu”, sebaliknya perempuan sangat tersanjung jika dipuji “Aku cinta padamu”.

Laki-laki menyayangi perempuan, dan perempuan akan membahagiakan laki-laki. Arjuna memperlakukan Sri Dewi layaknya Sri Dewi memperlakukannya. Kurangnya perhatian dan pelayanan, akan dibalaskan dengan sakit hati dan kekerasan.

Sri Dewi berlaku sabar, dan akan berontak jika saatnya tiba. Kepentingan dan perhatian perempuan terlihat jelas, dan secara wajar lingkungannya adalah rumahnya; ia luas seperti alam dan sempit seperti empat dinding. Nalurinya menyesuaikannya dengan hal-hal yang tradisional, dan ia mencintai hal-hal yang tradisional sebagaimana setiap ahli mencintai suasana yang mengungkapkan kehebatannya. (***)

Read Full Post »

Fisik:
Normalnya, laki-laki bertubuh lebih besar daripada perempuan; lebih tinggi; lebih kasar dan perempuan lebih halus; suara laki-laki lebih bervolume dan nadanya lebih kasar, sedang suara perempuan lebih lembut dan lebih bermelodi; perkembangan tubuh perempuan terjadi lebih dini daripada perkembangan tubuh laki-laki, sehingga secara universal dikatakan bahwa janin perempuan berkembang lebih dini daripada janin laki-laki; perkembangan otot dan kekuatan badan laki-laki lebih besar daripada perempuan.

Terhadap penyakit, imunitas perempuan lebih tahan daripada laki-laki; anak gadis lebih cepat mencapai pubertas dibanding anak laki-laki; dan perempuan lebih dini mencapai usia tidak produktif dibanding laki-laki dalam hal perkembangbiakan; anak perempuan lebih cepat mulai berbicara daripada anak laki-laki. Otak yang normal dari seorang laki-laki lebih besar daripada otak perempuan, tetapi menurut proporsi ukuran tubuh mereka, otak perempuan lebih besar daripada otak laki-laki; paru-paru laki-laki mempunyai space lebih besar dalam menampung udara di banding paru-paru perempuan; jantung perempuan berdetak lebih kencang daripada jantung laki-laki.

Psikis:
Laki-laki lebih menyukai gerak jasmani, berburu, dan pekerjaan-pekerjaan yang mengandalkan fisik, dibanding perempuan. Sentimen laki-laki bersifat manantang, suka berperang, sementara perempuan lebih suka damai dan ramah tamah. Laki-laki lebih agresif dan lebih suka bertengkar, perempuan lebih tenang dan kalem.
Perempuan tidak suka melakukan tindakan drastis, baik terhadap orang lain maupun terhadap dirinya sendiri, dan inilah sebabnya maka jumlah perempuan bunuh diri lebih sedikit daripada laki-laki. Dalam modus bunuh diri, laki-laki akan mengambil jalan pintas daripada perempuan. Laki-laki akan menggantungkan diri, menembak diri, atau meloncat dari puncak gedung yang tinggi, sementara perempuan cenderung menggunakan obat tidur, racun, dan sejenisnya. Perasaaan perempuan lebih cepat bangkit daripada laki-laki. Sentimen perempuan lebih cepat tergugah daripada laki-laki, dalam masalah-masalah yang melibatkan dirinya atau yang ditakutinya, perempuan lebih cepat dan lebih takut bereaksi, sedang laki-laki lebih berkepala dingin.

Secara alami, perempuan cenderung kepada dekorasi, perhiasan, mempercantik diri, dan berpakaian bagus. Perasaan perempuan lebih mudah berubah dibanding pria. Perempuan lebih berhati-hati, lebih religius, lebih suka bicara, lebih takut-takut daripada laki-laki. Perempuan lebih mudah beradaptasi, bersosialisi bahkan bernegosiasi. Keputusan yang diambil perempuan untuk hal-hal yang genting lebih baik daripada laki-laki. Perasaan perempuan lebih keibuan, dan perasaan ini tampak mulai masa kanak-kanan.

Perempuan lebih menaruh perhatian kepada keluarganya dan sehubungan dengan itu, perhatiannya lebih terarah kepada pentingnya rumah tangga daripada laki-laki. Dalam kegiatan yang didasarkan pada penalaran dan dalam problem intelektual yang muskil, perempuan sulit menyamai laki-laki, tetapi dalam kesustareaan, seni lukis, dan dalam segala hal yang berhubungan dengan estetika, perempuan lebih baik daripada laki-laki. Laki-laki lebih mampu menyimpan rahasia dibanding perempuan, Laki-laki juga lebih mampu memendam perasaan yang tidak menyenangkan dibanding perempuan. Perempuan sangat sensitif, cepat tersinggung, mudah marah, tetapi cepat juga berdamai. Perempuan juga mudah mengeluarkan airmata, entah kesedihan atau terharu bahagia. (***)

From my article in http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message/55814

Read Full Post »

Hari ini, 8 Maret beberapa kalangan memperingati hari perempuan internasional. Apakah hari selain 8 Maret adalah hari laki-laki? Semua kita pasti sudah tahu jawabannya, sehingga tidak perlu untuk diulas.
Salah satu yang mendasari lahirnya hari perempuan tersebut adalah ketidakadilan yang dialami perempuan sehingga perlu diperjuangkan untuk direformasi. Di Indonesia, sejak reformasi, bergulir ide keterwakilan 30% perempuan di lembaga publik maupun politik. Tahun berganti tahun, ide ini berhasil direstui negara berkat teman-teman aktivis LSM perempuan dan para perempuan di parlemen. Namun, ide ini justru melemahkan kapasitas perempuan, karena terkesan kaum perempuan tidak mampu menghadirkan dirinya di lembaga-lembaga pengambil kebijakan sehingga minta tolong pada negara untuk memprioritaskan keterwakilannya.

Patut ditelaah kembali, konstitusi kita tidak pernah menyebut jender untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia. Perempuan dan laki-laki adalah manusia yang harus dihormati hak asasinya, bukan karena ia perempuan atau karena ia laki-laki. Klausul 30 % keterwakilan perempuan di Undang-Undang telah melanggar UUD 1945 Amandemen pasal 28D ayat (2) dan ayat (3). Seandainya kaum laki-laki mengajukan hak konstitusionalnya ke Mahkamah Konstitusi (MK), maka MK sangat berdasar untuk mengabulkannya.

Perempuan dan laki-laki dalam berkompetisi seharusnya bermain sehat, agar eksistensinya bermanfaat dan berwibawa. Perempuan memang harus mewakilkan dirinya untuk bermusyawarah dengan kaum laki-laki, karena perempuan memiliki kepentingan mendasar yang berbeda dengan kaum laki-laki.

Dalam sebuah seleksi di lembaga publik yang diikuti 2 pelamar perempuan, untuk memperebutkan 5 kursi, salah satunya seakan menjadi wajib untuk diloloskan. Padahal keduanya atau salah satunya tidak memiliki intelektual yang memadai, akibatnya, proses pengambilan kebijakan yang menjadi alasan perlunya keterwakilan perempuan tidak berjalan efektif. Mayoritas perempuan yang berhasil duduk di lembaga publik pun politik tidak dapat bersuara lantang untuk memperjuangkan kepentingan kaumnya, bahkan kehadirannya seakan hanya sebagai pemanis.

Ada perbedaan mendasar antara hak laki-laki dan hak perempuan. Melahirkan dan menyusui sesungguhnya adalah paket alamiah yang tidak harus terpisahkan. Untuk menghasilkan generasi yang unggul, persiapan dini mulai dari memilih pasangan, perencanaan kehamilan dan pemberian ASI eksklusif hingga penyapian selama 2 tahun harus dilakukan perempuan, tentu dengan bekerja sama dengan laki-laki (baca : sang suami). Namun, peran dan pro aktiv perempuan lebih dominan daripada laki-laki, karena janin itu tumbuh di ladang perempuan dan disusui oleh perempuan.

Waktu yang dibutuhkan idealnya ± 3 tahun, yakni 9 bulan kehamilan dan 2 tahun penyusuan, plus 40 hari perawatan pasca melahirkan. Disinilah perempuan bekerja menjadi sulit membagi waktunya antara pekerjaan di kantor dengan urusan domestiknya, karena terbatasnya waktu cuti/libur yang diberikan negara. Inilah salah satu contoh hak perempuan yang telah ditelantarkan negara. Negara tidak memberikan cuti yang panjang buat perempuan, akibatnya salah satu kewajibannya atau bahkan keduanya menjadi tidak maksimal. Contoh lainnya, negara kita, Indonesia yang tercinta ini juga tidak peka jender misalnya pada kasus ketika perempuan menstruasi. Tidak sedikit remaja putri yang bersekolah mengalami sakit perut, bahkan emosinya meledak-ledak, dan lain sebagainya, sementara ia terikat aturan untuk tetap bersekolah. Apakah ia maksimal menerima pelajaran?

Masih banyak hak-hak perempuan yang selama ini kurang mendapat perhatian pejuang hak perempuan, sebut saja kesehatan reproduksinya yang perlu mendapat perhatian dan perlakuan khusus. Bagaimana karena kurangnya pengetahuan, banyak perempuan yang terjebak dengan penyakit keperempuanan seperti kanker rahim, kanker payudara, keputihan, menstruasi yang tidak teratur, dan lain sebagainya. Materi ini justru lebih penting daripada kuota 30%. Belum lagi masalah kehamilan, persalinan, penyusuan, yang kadang hadir tidak seperti yang diharapkan.

Perempuan akan tampil dengan sendirinya sebagai manusia yang utuh apabila masalah keperempuanannya berlangsung normal ataupun kalau bermasalah dapat teratasi. Dan hanya negara yang baiklah, yang peduli pada kaum perempuan bisa memberikan pengetahuan, perawatan ataupun pengobatan yang GRATIS atas masalah-masalah perempuan.

Untuk hak-hak yang mendasar pada laki-laki, saya serahkan pada kaum laki-laki saja, karena saya tidak bisa menyampaikan fakta yang tidak pernah saya alami.

Yang membuat sumir perdebatan adalah tuntutan persamaan hak dengan kaum laki-laki. Secara biologis, perempuan dan laki-laki itu berbeda. Dan karena bentukan biologis itulah, aspek psikologi yang berdampak pada sosiologinya pun menjadi berbeda. Jadi, hak karena jendernya pun menjadi berbeda. Namun, dalam kapasitasnya sebagai manusia, laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama khususnya hak atas akses informasi publik.

UUD 1945 dalam amandemennya pada 18 Agustus 2000, menjelaskan dalam pasal 28I ayat (1) bahwa hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

Untuk itulah kaum perempuan yang lantang memperjuangkan hak perempuan, perlu meninjau kembali apakah hak perempuan atau hak asasi manusia yang diperjuangkan. Apa yang terjadi selama ini yakni diskriminasi, kekerasan, pelecehan, dan lain sebagainya terhadap perempuan adalah pelanggaran HAM, bukan HAP ( Hak Asasi Perempuan )

Lainnya, untuk lebih cair dengan kaum laki-laki, perempuan sebaiknya tidak mengasosiasikan diri dengan label “perempuan”, karena terkesan mendikotomikan jender. Kecuali, kaum perempuan memang sedang memperjuangkan hak perempuan, hak yang berbeda dengan laki-laki seperti yang terurai diatas. Peringatan-peringatan yang berlabelkan jender mungkin memang harus untuk ditiadakan, agar kita manusia tidak terkotak-kotak karena jender. Jangan sampai jeruk makan jeruk, ah! ***

Read Full Post »

Older Posts »