Feeds:
Tulisan
Komentar

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘beda fisik dan psikis laki-laki dan perempuan’

Masih tentang perbedaan laki-laki dan perempuan, dalam sebuah tulisan yang dirilis April 2002, APA (Perhimpunan Psikolog Amerika) pernah mengadakan show film akting secara gratis untuk sejumlah laki-laki dan perempuan. Ini dalam rangka penelitian terhadap eksistensi perempuan/laki-laki, yang diantaranya untuk mencapai pengertian yang lebih dalam terhadap tingkah mereka. Soalnya, ujar mereka, penilaian terhadap mereka sering berdasarkan pengamatan secara pintas saja, tanpa didasarkan pemahaman yang lebih dalam tentang eksistensi mereka. Sementara beberapa psikolog mengamati dan mencatat ekspresi yang ditimbulkan tanpa mengganggu konsentrasi mereka.

Saat adegan “kecelakaan kendaraan”, misalnya, tampak sekali “ekspresi laki-laki cukup waspada, tidak sembarang” dan “ekpresi perempuan agak meledak, langsung simpati” terhadap korban.

Tapi dilihat dari mental, sama-sama merasakan nasib si korban, meskipun dengan ekspresi yang berbeda. Tapi umumnya itu sering ditafsirkan sebagai perbedaan bobot atensi dalam menghadapi balada. Bahkan sering memberi kesan “perempuan lebih tersentuh daripada laki-laki”.

Menurut APA, istri sudah terlatih untuk menahan marah terhadap suami. Soalnya terdapat faktor malu/riskan/segan untuk marah secara langsung. Jika dilakukan juga, akan timbul penyesalan, meskipun didiamkan.

Misalkan tengah malam pukul 01.00, bocah minta diantarkan ke kamar mandi, istri lebih mudah dibangunkan. Sementara jika terbangun sama-sama, suami lebih leluasa untuk mengacuhkan. Apakah ini mengisyaratkan suami mempunyai perasaan marah lebih besar? Tidak! Menurut dr. Leslie Brody (Universitas Boston-AS), mereka sama-sama mudah marah. Ini berdasarkan penelitian di laboratorium ketika menghadapi kegusaran, pria dan wanita sama-sama beraksi dalam bentuk denyut jantung dan respon jiwa. Tapi jika ditanyakan langsung, kata laki-laki, “Saya marah sekali” dan kata perempuan: “Saya sedih sekali”.

Dalam seksualitas terdapat juga perbedaan. Pernah mereka diberi buku “cabul”. Sekitar 42% perempuan: “Saya tidak tertarik”. Tapi saat diukur secara medis, birahi mereka secara fisiologis justru menunjukkan respon rangsangan. Laki-laki juga sama, hanya lebih mudah diketahui, hingga tidak perlu diukur secara medis (bahkan banyak laki-laki yang berani menyatakan: “saya terangsang”.

Perbedaan mereka mulai timbul sejak dalam rahim. Dalam tempo 6 minggu, mereka sama-sama menghasilkan testosteron dan estrogen dengan jumlah berbeda. Jika lebih banyak testosteron/estrogen daripada estrogen, diperkirakan kelak masing-masing jadi maskulin dan feminin.

Menurut Anne Moir dan David Jesel, ilmuwan genetika dari AS, usaha untuk menyamakan kedudukan atau menghapuskan kepribadian laki-laki/perempuan dengan menyuntikkan hormon, sebagaimana yang telah dilakukan di beberapa tempat, jelas tidak mungkin.

Soalnya antara otak laki-laki dan perempuan (sebagai pusat pengendalian segala tingkah) mempunyai perbedaan yang kontras, serta tidak dapat dinetralisir hanya dengan hormon.

Malah jangan-jangan hanya akan membuat otak rusak hingga membuat yang bersangkutan jadi “terganggu”. Jadi, percuma saja jika di tempat tertentu disediakan taman buku cerita yang seram atau taman oles wajah yang halus untuk membuat perempuan jadi berani dan laki-laki jadi genit.

Perbedaan otak mereka, berdasarkan penelitian Herbert Landsell, ilmuwan AS yang merintis penelitian tentang itu, ditemukan, kerusakan sedikit saja pada otak mereka, konsekuensi yang ditimbulkan berbeda. Misalkan kerusakan sedikit pada otak kanan: pria akan mengalami stroke berpikir dan perempuan hampir dapat berpikir normal. Perbedaan ini terletak pada corpus callosum, serat saraf yang menghubungkan otak sisi kiri dan otak sisi kanan.

Corpus Callosum milik wanita lebih tebal dan lebih bundar, akibat lebih banyak keterkaitan antara dua komponen otak dengan fungsi yang dipisahkan. Karena itu, dua komponen otak perempuan lebih terkoneksi secara timbal-balik.

Menurut Herbert Landsell, dalam pembicaraan, perempuan lebih mampu merangkai kalimat. Karena sisi kiri otak (mengontrol pembicaraan/perasaan) dan sisi kanan otak (mengontrol/mengolah informasi) lebih baik. Jadi tidak perlu heran jika perempuan lebih nyinyir alias cerewet.

Dengan mengamati struktur otak laki-laki dan perempuan, ilmuwan dapat memahami, mengapa kini timbul opini yang sebenarnya salah kaprah, yaitu laki-laki lebih doyan mengintip aurat?

Menurut dr. Eustace Chesser, ahli perkawinan dan seksualitas dari Inggris, laki-laki dan perempuan sama-sama suka “yang gituan”. Hanya saja perempuan lebih teliti hingga ketika mengintip tidak sampai kepergok. Bahkan jika akhirnya kepergok juga, mereka berdalih dengan segera mengeluarkan kalimat yang bersifat sugestif hingga memberi kesan pada lawan jenis bahwa mereka tidak mengintip, meskipun sebenarnya memang mengintip.

Berdasarkan penelitian, pria dan wanita masing-masing lebih baik dalam berpikir dan mendengar. Misalnya anak laki-laki lebih baik ketika dites tentang abjad. Sedangkan anak perempuan lebih mampu ketika disuruh menyanyi. Ini juga akibat perbedaan struktur otak pada laki-laki dan perempuan, yang bertalian dengan penginderaan.

Meskipun kini ada kesan, pria lebih tinggi dalam tingkat kecerdasan (IQ), namun ditinjau dari rata-rata, IQ perempuan sama dengan IQ pria. Namun ditinjau dari IQ ekstrim, laki-laki yang jenius dan laki-laki yang bodoh lebih banyak. Singkatnya, perempuan umumnya berada pada posisi tengah antara itu.

Kini perbedaan laki-laki dan perempuan melalui penelitian otak terus dilacak. Ini tiada lain untuk memberikan pengertian kepada manusia tentang jenis kelamin.

Terlepas apakah motivasi penelitian itu, tapi memang mempunyai dampak positif, yaitu agar dalam mengarahkan, mendidik, dan mempersoalkan laki-laki dan perempuan, dilakukan secara proposional, khususnya yang menyangkut kesetaraan jender. (***)

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.